Namaku Calista, seorang siswi di
Sekolah Menengah pertama. Seorang gadis yang lebih mementingkan belajar
daripada mencari pacar seperti yang teman-temannya lakukan. Hingga pada suatu
hari perkiraannya salah. Ia mengira bahwa ia takkan pernah berpacaran sampai ia
mengapai cita-citanya tapi yang terjadi kini diluar perkiraannya. Ia telah
jatuh pada prasangkanya sendiri
Calista POV
Aku berjalan dengan tergesa-gesa
memasuki kelasku. Tapi yang kulihat mejaku sudah diduduki oleh seorang cowok
yang tak pernah kukenal sebelumnya dan bodohnya aku karena ak lebih memilih
mengalah daripada mencari perkara yang tak akan pernah ada habisnya. Aku lebih
memilih duduk di bangku belakang. Tapi, aku yakin aku pasti bisa berkonsentrasi
walaupun aku duduk di belakang.
Waktu berjalan sangat cepat. Tak
terasa waktu istirahat tiba, aku bergegas menuju kantin dengan tak ditemani
oleh seorang temanpun. Ketika aku sampai di kantin aku melihat ada segerombolan
anak perempuan yang entah sedang mengerumuni apa. Aku beranikan diriku untuk
melihat apa yang terjadi. Ternyata mereka semua sedang mengerumuni seorang
cowok yang tadi sudah merebut bangkuku di kelas. Aku tak ambil pusing dengan
apa yang terjadi saat ini. Hingga tiba-tiba ada seseorang yang sudah menarik
kedua tanganku.
“Mulai sekarang jangan ganggu aku
lagi, karena aku sudah mempunyai pacar. Pacarku adalah Calista yang sekarang
sedang berdiri disampingku ini.”
Aku hanya terpaku dengan apa yang
barusan kudengar. Apa maksud dia berkata bahwa aku ini pacarnya. Aku merasa
bahwa aku tidak pernah menjalin kasih dengan siapapun. Apalagi dengan seorang
pria yang saat ini sedang berdiri disampingku. Tak terasa ia menarik tanganku
untuk meninggalkan kantin.
“Apa maksudmu berkata seperti itu?
Apakah kau ingin mempermainkanku? Aku bukan seorang wanita yang dengan mudahnya
isa kau permainkan. Lepaskan aku dan biarkan aku hidup tenang.” Ucapku dengan
tegas.
Tiba-tiba ia memelukku, seorang pria
yang tak kukenal sedang memelukku. Aku heran dengan apa yang terjadi saat ini.
“Aku mohon jangan berbicara seperti
itu, aku sungguh – sungguh mencintaimu. Namaku Aiden, mungkin kau baru
mengenalku tapi bagiku kau dan aku sudah mengenal sejak dahulu. Jauh sebelum
kita bertemu saat ini.” Ucapnya dengan cepat dan membuatku semakin bingung.
“Lepaskan aku! Biarkan aku berfikir
tentang semua ini.”
----o----
Aku berjalan pelan menuju sekoalhku.
Hingga tiba- tiba ada seseorang yang mengagetkanku.
“Hai Calista, naiklah. Kita bisa
berangkat bersama untuk hari ini.” Ucap seseorang yang ternyata adalah Aiden.
“Tidak, terimakasih. Aku bisa
berangkat sendiri.”Tolakku cepat
“Aku mohon sekali ini saja, aku
hanya ingin mengajakmu berangkat bersama. Apakah aku salah?” Tanyanya dan dapat
kulihat wajah memelasnya.
“Baiklah hanya untuk hari ini.”
----o----
Semakin hari ia semakin sering
mengajakku berangkat bersama dan pulang bersama. Hingga akhirnya aku mencoba
untuk mencari tahu tantang dirinya. Namanya Aiden. Anak tunggal dari seorang
pengusaha terkenal.
“Hai, Calista. Ayo kita pulang
bersama.”Ajaknya untuk yang kesekian kalinya.
“Bukankah kita memang selalu pulang
bersama.” Jawabku sambil tersenyum.
“hari ini kurasa aku sangat
beruntung.” Ucapnya tiba- tiba dan aku hanya bisa mngernyit kebingungan.
“Karena aku bisa melihat senyumanmu,
senyuman yang selama ini selalu kunanti.”
Entah mengapa setelah aku mendengar
ucapannya aku menjadi sangat senang. Dan anggapanku bahwa aku tidak akn pernah
menjalin kasih dengan seseorang sampai cita – citaku tercapai adalah salah. Aku
baru menyadarinya. Menyadari bahwa aku mencintai Aiden, seorang pria yang tiba
– tiba saja bisa megubah pandanganku
END







0 komentar:
Posting Komentar