hai, ketemu lagi sama aku. disini aku cuma mau berbagi cerpen aja. sebenarnya, cerpen ini adalah tugas Bahasa indonesia dari pada nganggur gak dibaca mending aku post aja. maaf kalau ada salah kata, maklum masih pemula. so, RCL
Penjara
Suci
Namanya Nihayah, Nihayah Ni’mah.
Seorang gadis cantik putri dari seorang pengusaha terkenal. Tak kalah dengan
ayahnya, Nihayah termasuk dalam jajaran pelajar terbaik se-Kota Malang.
Nihayah, peraih juara 1 lomba menulis puisi, juara 1 lomba olimpiade IPA dan masih
banyak lagi. Gadis yang tahun ini genap berumur 12 tahun dan akan segera
menghadapi ujian nasional SD ini tengah focus menatap buku kumpulan soal di
depannya. Tiba-tiba ayah gadis ini memanggilnya.
“Nihayah”, panggil ayahnya.
“Apa ayah?”, Jawab nihayah sambil
mendatangi ayahnya.
“Ayah ingin berbicara mengenai
rencana pendidikan kamu selanjutnya.”
“Ada apa dengan dengan pendidikanku?
Bukankah setelah lulus SD nanti aku akan masuk ke SMPN 3 Malang? Sekolah yang
masuk dalam jajaran sekolah favorit di Kota Malang.” tanya Nihayah cepat.
“Itu memang impian kamu. Tapi, bukan
impian ayah. Ayah menginginkan kamu untuk masuk ke pondok pesantren.”
“Tapi, ayah. Aku tidak mau. Aku
menginginkan untuk bersekolah di SMPN 3 Malang.” rengek Nihayah.
“Tidak ada yang bisa mengubah
keputusan ayah. Sekali ayah bilang kalau kamu harus masuk ke pondok pesantren
maka kamu harus mau.” Bentak ayahnya.
Setelah ayah membentak Nihayah.
Nihayah langsung masuk ke dalam kamarnya. Aku yang melihatnya dengan segera
ikut masuk ke dalam kamarnya. Aku melihatnya menangis di sudut kamar. Sendiri.
Terisak dalam diam. Aku tak tega, segera kuhampiri dia dan kuelus pelan
punggungnya.
“Sudahlah Nihayah, jangan menangis.”
Ucapku menenangkannya.
“Aku tidak mau kak. Aku tidak mau
masuk ke pondok pesantren. Yang aku mau hanyalah bersekolah di SMPN 3 Malang.
Sekolah impianku sejak lama.” Paraunya
“Iya, kakak tau. Tapi, dengan
menangis seperti ini tidak akan membuat ayah mengubah keputusannya.”
“Terus apa yang harus aku lakukan
agar ayah mengubah keputusannya?” tanyanya padaku.
“Buktikan bahwa kamu pantas menjadi
murid SMPN 3 Malnang” kataku tegas.
“Bagaimana caranya kak?”
“Rajinlah belajar. Raih nilai
terbaik saat ujian nasional nanti dan dengan nilai kamu bisa masuk ke SMPN 3
Malang tanpa tes.”
“Baiklah kak. Aku berjanji dan akn
kubuktikan pada ayah bahwa aku bisa.” Ucapnya dengan semangat yang terlihat
jelas.
Setelah pertengkaran adikku, Nihayah
dengan ayah. Ia menjadi lebih bersemangat belajar. Setelah pulang sekolah, ia
mengurung diri di kamar. Setiap kutanya dia sedang apa. Dia selalu menjawab
dengan hal yang sama yakni berjuang meraih impian. Bahkan dia menambah jadwal
bimbingan belajarnya. Yang awalnya dari dari jam 6 sore sampai jam setengah
delapan menjadi dari jam 6 sore sampai jam 9 malam. Aku yang melihatnya serasa
ingin menangis. Ia berusaha sangat keras. Hingga suatu hari, ia jatuh sakit.
Aku yang mengetahuinya langsung panik. Aku tau dia berusaha sangat keras untuk
membuktikan pada ayah bahwa dia bisa mewujudkan apa yang menjadi keinginannya.
Aku merawatnya dengan penuh perhatian supaya dia bisa lekas sembuh dan berjuang
kembali.
Akhirnya, dia sembuh. Sembuh dari
sakit yang membuat dia menjadi berhenti mewujudkan mimpinya. Kulihat kilatan
semangat masih terpatri kuat dalam dirinya. Aku menangis melihatnya. Melihat ia
berjuang sangat keras mewujudkan impiannya. Nihayah, kakak mendukungmu apapun
yang menjadi keputusanmu.
Saatnya tiba, waktunya untuk
berperang. Nihayah akan berperang melawan musuhnya selama 6 tahun ini. Ujian
nasional, hal yang menjadi momok menakutkan bagi seluruh murid di Sekolah
Dasar. Bagaimana tidak menjadi momok? Apabila perjuangan selama 6 tahun hanya
ditentukan dengan 3 hari. Tak adil memang tapi, mau bagaimana lagi hanya dengan
melewati ujian nasional ini aku akan melihat adikku nihayah kembali tersenyum.
“Kakak aku berangkat dulu ya. Doakan
aku semoga aku bisa membuktikan pada ayah bahwa apa yang menjadi impianku bukan
hanya sekedar khayalan anak kecil saja.” Ucapnya bersemangat.
Aku ingin menangis melihat
semangatnya. Semangat seorang gadis kecil berumur 12 tahun yang harus berjuang
melawan kekerasan ayah. Memang berat melihat apa yang selama ini adikku
perjuangkan harus berakhir dengan tangisan. Aku tidak mau itu terjadi, yang aku
mau adalah adikku tersenyum tanpa henti dalam menjalani kehidupan ini.
“Hati-hati di jalan.” Teriakku
keras.
3 hari berlalu begitu cepat. Tak
terasa hari ini adalah hari terakhir nihayah mengikuti ujian nasional. Setiap
pulang sekolah kusempatkan diriku untuk sekedar bertanya apakah ia bisa
mengerjakan soal dengan baik dan anggukan kepala disertai senyumanlah yang
menjawabnya. Aku senang melihat adikku tidak mengurung diri dalam kamar lagi,
setidaknya aku dapat melihat senyumannya walaupun hanya sekilas.
Hari ini, aku mengajak adikku pergi
berkeliling kota malang. Membawanya pergi dari kepenatan yang menderanya ketika
ia mempersiapkan diri guna mengikuti ujian nasional. Senyuman itu muncul
kembali. Senyum kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya yang membuatku
ingin meneteskan air mata. Bukan air mata kesedihan melainkan air mata
kebahagiaan.
“Nihayah mau apa?” tanyaku
tiba-tiba.
“Nihayah mau itu” ucapnya sambil
menunjuk penjual es krim.
“Tunggu sebentar ya, kakak belikan
dulu”
Aku berlari sambil memanggil penjual
es krim itu. Aku tidak peduli walaupun cuaca hari ini sangat panas, yang
terfikirkan olehku saat ini adalah aku bisa membahagiakan adikku walau hanya
untuk sementara. Setelah kudapatkan es krim yang diinginkan adikku aku kembali
duduk disampingnya, memandangnya memakan es krim itu membuatku menarik sedikit
bibirku. Aku tersenyum. Tersenyum hanya dengan memandang wajah adikku.
“Sudah selesai makan es krimnya?”
tanyaku cepat.
“Sudah kak” jawabnya masih dengan
tersenyum.
“Ya sudah ayo kita pulang, di rumah
ayah dan ibu sudah menunggu”
Kemudian ia berdiri sambil
menggenggam tanganku pelan dan menarikku menuju jalan menuju rumah. Aku pulang
dengan perasaan gembira, gembira karena melihat adikku tersenyum bahagia.
Hari ini pun tiba, 20 Juni 2009
menjadi penentuan. Hari ini adalah pengumuman hasil ujian nasional. Aku berdoa
semoga apa yang menjadi keinginan adikku terwujud. Aku tak ingin melihatnya
menagis lagi, karena aku yakin nihayah adalah gadis cantik yang bisa mewujudkan
impiannya.
Nihayah pulang. Ia pulang dan
langsung memelukku. Terlihat raut bahagia tergambar jelas di wajahnya.
Kebahagiaan ada padanya.
“Bagaimana hasilnya?” tanyaku
penasaran.
“Aku lulus kak, lulus dengan nilai
yang memuaskan. Bahkan gurukupun bilang kalau dengan nilai itu aku bisa masuk
ke SMPN 3 Malang tanpa tes.” Jawabnya dengan nada yang membuat aku bahagia.
“Kakak turut senang, pasti ayah
bangga padamu nihayah.”
Bagaimana ia tidak senang. Ia adalah
siswa peraih hasil ujian tertinggi di sekolahnya. Ia mendapat nilai sempurna
untuk dua mata pelajaran sedangkan satu pelajaran lainnya hanya salah satu
soal. Serasa dunia berpihak padanya. Aku yakin ayahku akan bangga pada adikku
dan membatalkan keputusannya untuk memasukkan adikku ke pondok pesantern.
Jam menunjukkan pukul 5 sore,
saatnya ayahku pulang. Aku tidak sabar
melihat reaksi ayahku saat dia tahu apa yang diraih oleh adikku.
“Ayah pulang.”
Kulangkahkan kaki menuju pintu guna
membukanya untuk ayahku.
“Bagaimana hasil kelulusan adikmu?”
Tanya ayahku.
“Lebih baik ayah langsung bertanya
pada nihayah saja.”
Nihayah yang mengetahui ayah sudah
pulang, langsung berlari kecil menghampiri ayahku.
“Aku lulus ayah, aku meraih
peringkat pertama di sekolahku. Bahkan aku bisa masuk ke sekolah impianku tanpa
tes.” Ucap nihayah dengan menunjukkan raut bahagianya.
“Tidak.” Bentak ayahku.
“Sekali ayah bilang bahwa kamu harus
masuk ke pondok pesantren maka kamu harus menurutinya. Tidak ada pilihan lain
walaupun kamu bisa masuk ke sekolah luar negeripun ayah tidak peduli. Keputusan
ayah sudah bulat.” Lanjut ayah
Aku yang melihatnya hanya bisa
tersenyum getir sedangkan nihayah dia langsung berlari menuju kamarnya dan aku
yakin sekarang dia pasti sedang menangis di sudut kamarnya sama seperti ketika
ia dan ayah bertengkar waktu itu. Jika aku jadi nihayah aku pastia akan merasa
sangat terpukul. Aku tak bisa berfikir dengan jernih, tak bisa berjalan dengan
tegap, tak bisa mendengar dengan jelas karena yang terfikir sekarang adalah
kegagalan yang tak terkira.
Aku berjalan dengan gontai menuju
kamar nihayah. Aku membuka pelan pintu kamarnya, dugaanku benar. Dia sekarang
sedang meringkuk di sudut kamarnya. Sendiri. Terisak dalam diam. Air mataku
turun secara perlahan, pertahananku runtuh. Aku berjalan pelan menghamiri
adikku, kuelus pelan punggungnya berharap dia akan berhenti menangis.
“Sudahlah
nihayah, jangan menangis. Kakak yakin setelah ada kesulitan pasti akan ada
kemudahan. Apa yang terjadi saat ini adalah cobaan buat nihayah, nihayah harus
bisa buktikan pada ayah kalau nihayah bisa melakukan apapun dalam kondisi
apapun.” Ucapku menenangkannya.
Nihayah
berhenti menangis, ia langsung memelukku. Masih terlihat jelas raut kesedihan
di wajahnya. Ya Allah, aku mohon kuatkanlah hati adikku ini, dia sudah cukup
menderita doaku dalam hati.
Tepat
hari ini, 15 Juli 2009 adikku nihayah akan pergi menuju tempatnya berperang
yakni pondok pesantren. Aku turut mengantarkan adikku ke tempatnya menuntut
ilmu. Perjalanan ini terasa sangat sepi, tak ada tawa bahagia apalagi canda
bersama sedangkan nihayah dia hanya bisa menatap kosong ke luar jendela.
Aku
menatap gerbang tinggi dihadapanku. Gerbang awal dari perjuangan adikku. Ku
pegang pundak adikku mencoba memberi semangat kepada adikku, nihayah.
“Kakak
yakin kamu bisa, buktikan pada ayah bahwa apapun yang terjadi kamu bisa
menaklukkannya.” Ucapku memberi semangat.
Setiap
satu minggu sekali aku sempatkan untuk menjenguk adikku di pondoknya, aku
menjenguk sekaligus membawa makanan yang disukainya. Awalnya nihayah merasa
tertekan berada di pondok tapi, seiring berjalannya waktu nihayah sudah
terbiasa dan hari ini tepat satu tahun adikku masuk ke dalam pondok pesantren.
“Bagaimana
kabarmu, nihayah?” tanyaku
“Kabarku
baik kak, aku senang sekali. Kemarin aku berhasil meraih nilai tertinggi untuk
ulangan fiqih dan shorof aku juga meraih nilai tertinngi untuk mata pelajaran
fisika dan matematika.”
Aku
bahagia melihatnya tersenyum. Aku fikir dia akan tersiksa berada di sini tapi, nyatanya
tidak. Aku lega jika nihayah sudah bisa beradaptasi pada lingkungan di sini.
“Kakak
bahagia mendengarnya, akhirnya kamu bisa membuktikan pada dunia bahwa kamu
bisa. Kakak menunggu kabar keberhasilanmu. Sama seperti kakak menanti kabar
kelulusanmu pada waktu sekolah dasar dulu.” Ucapku menyemangatinya.
“Aku
berjanji kak, aku akan membuktikan pada ayah bahwa aku bisa membuat ayah
tersenyum padaku.” Ucapnya semangat
Semangat
yang sudah lama tak terlihat. Semangat yang dia tunjukkan ketika ia berjuang
menaklukkan ujian nasional satu tahun yang lalu. Semngat yang membuat dia
jatuuh sakit tapi, akhirnya dia bangkit dan mencoba berjalan kembali.
“Kakak
menunggu kabar bahagia darimu nihayah, kabar yang menyebutkan bahwa kamu lulus
sekolah menengah pertama dengan nilai yang memuaskan.”
“Aku
berjanji kak.” Kilatan tekad terlihat jelas di matanya.
Tak
terasa waktu berjalan begitu cepat. Tahun ini adalah tahun ketiga nihayah
berada di pondok pesantren. Tahun akhir dia dan juga tahunnya untuk berperang
dengan ujian nasional kembali. Di tengah kesibukanku selalu kusempatkan waktu
untuk pergi menjenguknya, memberi semangat dan memotivasinya untuk bangkit
memperjuangkan impiannya karena aku tahu nihayah masih mempunyai impian untuk
meneruskan sekolah di sekolah negeri favorit di Kota Malang.
23
April 2012 adalah hari dimana nihayah harus berjuang menaklukkan momok
menakutkan. Kali ini dia hanya berjuang seendiri karena tak mungkin aku
menghampirinya setiap pagi untuk memberi semangat kepadanya. Tapi aku yakin
adikku nihayah sudah berjuang dengan maksimal. Ia sudah aktif mengikuti try out
di luar sekolahnya. Ia sudah mengikuti bimbingan belajar dengan rajin. Bahkan
ia sudah mengerjakan lebih dari empat buku kumpulan soal menghadapi ujian
nasional.
Hari
ini aku kembali mengunjungi adikku, mengunjunginya setelah ia selesai
menghadapi ujian nasional. Aku akan mengajak adikku berjalan-jalan hal yang
selalu kulakukan ketika nihayah telah selesai menghadapi ujian nasional tapi,
yang harus kulakukan sekarang adalah mengijinkan adikku pada pengurus pondok.
Setelah
mengalami sedikit perdebatan dengan pengurus pondok, akhirnya aku berhasil
membawa nihayah jalan-jalan. Jalan-jalan yang mungkin bisa sekedar membuat
adikku bahagia.
“Apakah
kamu bahagia, nihayah?” Tanyaku pada nihayah
“Aku
bahagia kak. Akhirnya aku bisa menikmati indahnya dunia ini.”
Aku
kembali melihatnya tersenyum. Tersenyum yang menandakan ia sangat bahagia.
“Bagaimana
dengan sekolahmu?” tanyaku
“Aku
sudah bisa menerima semuanya. Bahkan aku menganggap bahwa pondok itu adalah
penjara suci bagiku.” Jawabnya degan tersenyum
“Penjara
suci?”
“Walaupun
pondok membatasi apa yang harus dilakukan tapi aku bahagia bahkan aku banyak
mendapat pelajaran bahagia di dalamnya. Oleh karena itu aku menjulukinya dengan
penjara suci.”
“Bukannya
kamu menganggap kalau pondok itu adalah kesalahan?”
“Itu
dulu kak bukan sekarang. Walaupun pondok itu adalah kesalahan tapi masuk ke
pondok adalah kesalahan terindah dalam hidupku.” Ucapnya dengan senyum yang
masih mengembang.
Jam
sudah menunjukkan pukul 4 sore, saatnya aku mengantarkan nihayah kembali ke
pondoknya. Sudah cukup aku melihat adikku tersenyum bahagia hari ini dan aku
berharap senyuman itu tak akan pudar.
2
Juni 2012 adalah hari yang paling dinanti oleh nihayah. Hari ini adalah hari
pengumunan kelulusan bagi siswa sekolah menengah pertama. Aku berharap yang
terbaik bagi adikku, semoga keinginannya untuk bersekolah di SMAN favorit di
Kota Malang terwujud.
Tiba-tiba
handphoneku berdering, segera kulihat siapa yang meneleponku ternyata nihayah.
Ia pasti ingin menyampaikan hasil kelulusannya padaku.
“Halo”
jawabku
“Halo
kak, ini aku nihayah. Aku Cuma mau mengabarkan kalau akau lulus kak. Aku lulus
dengan nilai yang memuaskan kak. Kejadian 3 tahun lalu terulang kembali kak.
Aku kembali menduduki peringkat pertama di sekolahku. Nilaiku pun bisa
kugunakan untuk masuk ke sekolah menengah atas impianku kak.” Ucap nihayah
dengan nada yang terliahat gembira.
“Kakak
bahagia mendengar kamu bahagia. Segera penuhi semua persyaratan yang dibutuhkan
untuk pendaftaran sekolah menengah atas. Nanti sore kakak kesana.”
“Baik
kak. Akan kusiapkan semuanya. Aku tutup dulu teleponnya kak.”
Dan
hari ini, 9 Juli 2012 aku melihat adikku kembali tersenyum menggunakan seragam
putih abu-abunya. Seragam yang menandakan bahwa sekarang ia sudah menjadi murid
sekolah menengah atas. Menjadi murid di sekolah impiannya selama ini.
"sesudah kesulitan pasti ada kemudahan karena kesulitan ataupun kegagalan yang kita terima adalah awal untuk menemukan kebahagiaan”
Sebuah
karya anak SMAN 5 malang
-aisyah
nuratikhoh-
X-3







0 komentar:
Posting Komentar